Kamis, 17 Februari 2011

Unit-Linked Allianz Berkinerja Baik

Tahun 2009 sesungguhnya, tahun yang bagus untuk kinerja fund unit-linked dibandingkan dengan 2008. Allianz Life Indonesia mencatatkan total fund unit-linked sebesar Rp 4,72 trilyun dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp 3,42 trilyun. Total polis inforce unit-linked tumbuh hingga lebih dari 203.000 dari sebelumnya 156.534 di tahun 2008. Dari sembilan fund Unit-linked yang ditawarkan oleh Allianz Life Indonesia, Smartlink Balanced Fund adalah yang paling popular. Fund ini diperuntukkan bagi nasabah yang memilih risiko investasi moderat. Sampai dengan akhir 2009, fund ini mencatatkan return 115,5% sejak peluncuran. 




Pasar saham dunia ditutup menguat di akhir tahun 2009. Demikian juga dengan IHSG yang menghasilkan return sebesar 87%, merupakan return tertinggi sejak 1993 dan menjadikannya sebagai indeks nomor dua terbaik di Asia (setelah Srilanka).
Selain dari alasan jelas yang melatarbelakangi peningkatan pasar saham tersebut - pulihnya kepercayaan yang dihasilkan dari pemberian stimulus fiskal dan suntikan likuiditas secara besar-besaran di Cina serta sebagian besar negara-negara Barat - Indonesia memiliki sejumlah karakteristik spesifik yang mendukung. Indonesia memiliki ketergantungan yang relatif rendah terhadap ekspor dan juga rasio utang publik yang rendah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), kondisi inilah yang membawa Indonesia lolos dari pengaruh krisis. Dan juga diikuti dengan stabilitas politik yang lebih baik setelah kemenangan SBY dalam pemilu pada Oktober 2009, menjadikan minat asing terhadap pasar saham di Indonesia kembali meningkat.
Berdasarkan latar belakang kondisi diatas kami mencoba untuk membuat prediksi dalam 12 bulan kedepan. Pertama, kinerja yang spektakuler seperti di tahun 2009  mungkin tidak akan terulang pada tahun 2010, hal ini dikarenakan pasar sudah bergerak naik dan menyebabkan valuasi pasar tidak semenarik tahun sebelumnya. Beberapa ketidakpastian tetap akan ada untuk beberapa bulan ke depan. Perekonomian negara barat belum keluar dari krisis sepenuhnya dimana tingkat utang konsumen tetap tinggi dan bank-bank besar di Amerika Serikat maupun Eropa masih enggan untuk memberikan pinjaman.
 “Kami beranggapan bahwa pengeluaran untuk konsumsi akan tetap lamban di tahun-tahun yang akan datang dan hal ini membuat pertumbuhan PDB tetap berada di bawah level sebelum krisis,”ujar Nikhil Srinivasan, Chief Investment Officer, Allianz Investment Management Asia.
Kedua, minat dan kepercayaan terhadap Indonesia akan sangat ditentukan oleh kinerja pemerintahan SBY dalam menjalankan dan mereformasi kebijakan-kebijakannya. Pemerintah telah banyak mengatakan bahwa betapa Indonesia sangat membutuhkan pengeluaran untuk menopang pembangunan infrastruktur di negara ini. SBY telah menyatakan keinginannya untuk meningkatkan tingkat pertumbuhan PDB Indonesia menjadi 6,6% selama lima tahun dan pembangunan infrastruktur adalah bagian kunci dalam strategi ini. SBY juga mengakui adanya kebutuhan untuk menarik lebih banyak dana investasi asing langsung (foreign direct investment) dengan cara membuat Indonesia menjadi tempat yang lebih menarik dan kondusif untuk melakukan bisnis.
“Kami optimis secara selektif untuk kondisi pasar di tahun mendatang, tetapi tetap menyadari adanya ketidakpastian dalam perekonomian global dan dalam negeri”, ujar Nikhil.

Panduan Investasi di 2010

Untuk pasar saham Indonesia, terlihat peluang yang baik pada sektor infrastruktur, properti, konsumen, bank dan beberapa perusahaan pertambangan. Untuk sektor infrastruktur, perusahaan semen lebih menarik – yang memiliki kekuatan negosiasi harga yang baik dan struktur industri yang menarik – daripada sektor konstruksi atau perusahaan jalan tol. Perusahaan dengan model bisnis dan posisi pasar yang kuat, dengan valuasi harga saham wajar juga menarik.
“Kami juga akan selektif dalam membeli saham-saham yang kurang diminati namun memiliki atribut imbal hasil vs resiko yang bagus. Yang paling penting lagi, kami akan bergerak cepat dan disiplin dalam menangkap setiap peluang dan koreksi harga yang muncul seiring dengan meningkatnya volatilitas dalam pasar,”papar Nikhil Srinivasan.
Untuk pasar obligasi, risiko durasi akibat ekspektasi pengetatan moneter yang dapat saja terjadi pada tahun 2010 harus diperhitungkan. Meskipun BI tetap menjaga kebijakan tingkat suku bunganya untuk tidak berubah dari 6,5% dan kebijakannya menjadi lebih hati-hati pada pertemuan dalam minggu pertama Januari 2010, kami tetap mencermati risiko inflasi yang terkait dengan harga pangan dan pergerakan dalam harga-harga barang tertentu dalam komponen inflasi serta pertumbuhan kredit, terutama di paruh kedua tahun ini. Terkait dengan obligasi korporasi, kami tetap selektif dan akan melihat pada perusahaan yang memiliki kualitas neraca dan pendapatan yang tinggi.

Kinerja fund Unit-linked Allianz

“Kami sangat senang dengan iklim investasi positif, terutama pada semester kedua 2009, yang telah membawa pertumbuhan kuat di bisnis unit-linked kami,” ujar Jens Reisch, CEO Allianz Life Indonesia. “Bagi  para nasabah unit-linked kami, kebijakan investasi yang berhati-hati telah memberikan hasil yang berkelanjutan,” tambah Jens Reisch.
Fund unit-linked konvensional dan Syariah Allianz Life Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan di 2009. Aset unit-linked konvensional bertumbuh lebih dari 34% menjadi Rp 4,4 trilyun sedangkan aset unit-linked Syariah tumbuh lebih dari 120% menjadi Rp 289 milyar, dibandingkan pada tahun 2008.
“Dengan pandangan investasi yang positif di 2010, kami yakin bahwa asuransi jiwa unit-linked akan tetap menjadi pilihan utama nasabah sehubungan dengan sifatnya yang memberikan perlindungan lengkap dengan hasil investasi yang bagus dan fleksibilitas dalam pilihan jenis investasi dan penarikan dana. Bisnis unit-linked akan terus menjadi penggerak pertumbuhan bisnis asuransi jiwa kami,” prediksi Jens Reisch.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar